Tampilkan postingan dengan label dentingan mata dewa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dentingan mata dewa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 September 2010

merajam bait demi bait membeku



cakrawala perlahan meredup
tersayat desah kelam,
menikam tikaman menetas bulir
membelah purba,
berkecamuk nikatemuley
merajam bait demi bait membeku,

terhempas pusara
meremas goresan purba,
mereguk sekejap penantian
meruntuh gemintang,
durjana mengiris ulu hati
menyatu halilintarmu,

mengukir gelombang pintu
menuang racun leluhurku,
tatapan menyalang memahat
menempis makna nikatemuley,
jejak mencadar lirih bebatuan
disepanjang aliran sungaiku


Toehlang
Poehwang
river


.

mengepak ujung Lazuardi



mengepak Larmu batas cakrawala woroworo,
ujung lazuardi menghujam wahawaha geu sunyi,
mantera menjejak cawan tenggelam sukma tersirat,
topengmu menghiasi lakon mendetak nafas,

menyentuhmu mega berarak lintasan bayang lukisan,
burung-burung terbangan membelah sudut lautan,
remang merinai mata peri semerbak,
hati sesak merimbun tangkai bunga,

merapuh lava menghujam Luruh petirmu,
meredup makna tenggelam cahaya merentang,

MAHA-Mu,
tiada menepis berjuta makna menatah Asa

Lokasi: woroworo - wahawaha geu
- Nias Island :28 Februari


.

Sabtu, 17 Juli 2010

bulir bulir menyentuh pahatan nafas



menitis ladang ladang tandus membuai warna menggerusmu,
berpaling berjuta asa menumpuk bangkai mengkelam,
terjerembab pusara kian terisak menganga,
penghianatan tersapu desah arus kian menggerus,
menatap ujung belati membunuh ranting ranting kering,
saat kematian tersimpan membuncah bejana angkara,
menekuk mata bersimpuh bahtera terhempas menyekap,
tercipta bulir bulir embun menyentuh pahatan nafas,
qolbu menyeruak belantara MAHA menenun jiwa menggetar

menatap ujung belati membunuh ranting ranting kering,
saat kematian tersimpan membuncah bejana angkara,

Lokasi: tertatah membuncah kematian
22 Februari 2010

memukau kelam topeng terpasak



menjejak bumi dihantaran cawan langit
menggores purba,
berpaling menjejak terjejak
kala berpacu memacu,
membentang gemuruh gelombangmu
memecahujung cadikku,
membuih ombak tersiram buritan
menghambar badai,
perlahan tiang layar kupatahkan
sejenak membeku,
menyala tatapan danau mata
membersit kilat
menghempas dasar lautan,
menatap mata dewa menenggelam hamparan
menjingga peraduan malam,
setitik kekuatan kiasan tembaga
menyepuh tebing terjal,
sebutir pendakian menjeram riam
menepis badai membentang,
menetas lingkaran ruh tertaut
singgasana gemerlap

Lokasi: tertatah membuncah kematian

Bentangkan sayapmu sang mata dewa



Bentangkan sayapmu sang mata dewa
dalam mantera sukma meraga dewi
rembulan bermakna di cakrawala jingga
membuncah relung menjingga,

menyatulah semenanjung
dipelukan ujung teluk tiada bermakna
terbawa lukisan hamparan pasir
menikam buih terhantarkan

Lokasi: semenanjung dipelukan ujung
teluk tiada bermakna



.

Jangan tangisi apa yang bukan milikmu



akulah ilalang di antara belantara hilang,
berdiri gontai dimain angin jalang,
sesekali daun tuaku rapuh terbang terbuang

hidup itu beda, hati itu tak sama,
cinta itu masih luar biasa, beda,
akulah kesendirian yang lelah

gerimis menatap waktu purba,
mentari menikam laksana purnama,
aku disini terdiam
tersentak tanpa kata,
seakan dunia gelap oleh kabut,
cahaya menghilang di telan makna

Ketika ku coba untuk memahami arti
lara tenggelam menjemput penyesalan,
ketika semua seakan pergi,
kertas putih menghitam jiwa
tatkala kutatap mata,
nanar hatiku bertanya,
ucapkan untuk menipu

aku tetap merasa sendiri
memelukmu wahai ketakutan,

aku masih bertanya
menikam nafas terus bertanya,

Jangan tangisi
apa yang bukan milikmu

lembut sutera jemarimu menyitir wajahku



aku ingin lembut sutera jemarimu
menyitir wajah ku
berjuta senyuman dibibir indahmu
cakrawala,

aku akan mempersunting senyuman
dalam bejana lintasan lautan
menyatu gelombang ombakku,

menantah waktu di altar candi
kehidupan khayangan nanti

biarkan waktu mengalirkan
gelora gelombangku

memuja altar candi khayangan
mempersunting senyumanmu
bersama lembut
sutera jemarimu


Lokasi: cipageran jawabarat
05 Februari 2010


.

hamparan pasir putihmu



setiap kosa demi katamu
menghiasi berjuta mimpiku
dalam mengurai siluete wajahmu,

aku semakin mengagumimu
semakin mengembangkan layarku
menyusuri setiap gelora gelombangmu
senja mencumbu dini hariku
kemudian terdampar
dalam hamparan pasir putihmu
aku semakin mengagumimu

maka biarkan kembali
aku mengurai lembut dengan kasihku
mencumbu malammu semakin menganga semu ,

maka malam telah berganti pagi,
tetapi kehangatan yang engkau berikan
masih begitu membekas dalam sukmaku
tertatah di hamparan putih pasirku

rinai rinai dalam bait



marilah menari dalam bait demi bait,
nyayian bumi yang semakin membumi,
halilintarku serta terpaan anginku
menghancurkan awan kelabu menggantung
serpihan menyanyikan bait demi bait

rinai rinai dalam bait
menyirami perut bumi semakin membumi,
menyanyikan halilintarku
menyambar membahana
merasuki sukmamu

pedang bermata dua



biarlah pedang bermata dua milikku
menghunus logika menghempas,
pedang bermata dua milikku
menghunus logika

pedang bermata dua milikku
menghunus logika

memintalmu di cakrawala surga



memintalmu di cakrawala
dengan surga yang telah tiada,
merajutmu di bawahku
hanya bumi tiada neraka,
hamparan penuh cinta
membahana merasuki jiwa
membuncah raga,

terimalah setangkai mawar merah
kupetik dengan tanganku sendiri
di taman hatiku,

menyentuhmu cinta
benar-benar ada
merajutmu di bawahku
hanya bumi tiada neraka,

saat mata menyapa dentingan sang mata dewa



saat mata menyapa dentingan sang mata dewa
menyembul di balik peraduan,

berjuta mimpi terkubur bersama setetes embun
engkau taburkan di taman hatiku,

menebar aroma cinta dan keindahan
merasuki jiwa membuncah raga,
sebuah kecupan mesra menyentuh lembut telingamu

dengan sebaris untaian kata: terimakasih sayang,
mentari telah bersinar kembali menyentuh hariku.

Lokasi: menebar aroma cinta dan
keindahan merasuki jiwa membuncah raga,
21 Januari 2010